kilaubiru™

Expect nothing. Do something.

Kata Orang, Jogja itu Ngangenin

Panas-panas goreng pisang
Kopi agak manis di gelas kaca
Di gelar tikar di terang neon
Di ubun-ubunnya Jogjakarta

Gadis manis senyum-senyum
Tawarkan nasi bungkus daun pisang
Sama-sama makan malam-malam
Di ubun-ubunnya Jogjakarta

Semua aku ingat
Dan tak akan kulupa
Kenangan paling indah
Dan paling… paling asyik

Ada lagu yang indah di Malioboro
Lagu cinta tentang engkau dan aku
Ada sajak yang indah di Malioboro
Sajak cinta tentang engkau dan aku

Lirik lagu berjudul Malioboro yang dipopulerkan oleh Doel Sumbang sekitar tahun 1990-an memang mengingatkan kembali suasana Jalan Malioboro bagi yang pernah mengunjunginya, apalagi bagi warga Jogja yang sedang berada di rantau. Jogja, ada yang menyebutnya Yogya, Yogyakarta, ataupun Jogjakarta, adalah pusat kerajaan Mataram pada tahun 1575 – 1640. Hingga kini Kraton Yogyakarta masih tetap digunakan oleh Raja Mataram, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga menjabat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pusat kota mulai dari Tugu hingga Kraton, Malioboro menjadi daerah wisata belanja yang khas. Atmosfer seni dan budaya sangat terasa. Bila ingin memutari kota, mulai dari pusat kota, terminal bus, bandara, hingga candi Prambanan, bisa naik bus Trans Jogja. Semacam bus Trans Jakarta dengan halte khusus namun hanya berukuran 3/4 bus. Selain kendaraan bermesin, boleh dicoba mengelilingi kota Jogja di sore hari dengan sepeda, becak, atau andong. Khas keramahan kota Jogja, banyak orang bilang seperti berada di rumah sendiri.

Banyak orang yang pernah ke Jogja mengatakan bahwa Jogja itu selalu bikin kangen. Berkunjunglah ke sini, bro & sis pasti akan mengerti sebabnya 😉

menuju jalan malioboro 🙄

malioboro mall 🙄

malam di malioboro 🙄

pasar sore malioboro 🙄

bus trans jogja 🙄

Foto : Dari berbagai sumber

45 responses to “Kata Orang, Jogja itu Ngangenin

  1. blog aneka ragam 16 Februari 2010 pukul 1:10 PM

    wah.. emang benar sob klo yogya itu ngangenin. pengen deh kesana lagi tapi bareng pacar 🙂 sebelumnya kan hanya bareng teman atau sendiri aja.

  2. at0z 16 Februari 2010 pukul 3:03 PM

    Nyesek klo k jogja…
    *da kenangan indah yg takkan terulang*

  3. kentaro ケンタロ 16 Februari 2010 pukul 6:22 PM

    Kalo kerajaan mataram pertamaxxnya di kartosuro :mrgreen: , terus pecah jd surokarto hadiningrat n jogjakarta hadiningrat 😀
    Lha ne adekq lg d jogja,tp q g ikt, cz lg ada ujian praktek kejuruan 😦

  4. Lilypud_suka.design 16 Februari 2010 pukul 7:06 PM

    kapan2 ke tugu baren yoo :mrgreen: belum pernah kesana saya ..wkk . .kemaren ngajak temen tp ga di bolehin ma ibunya (cewe sih yg diajak :mrgreen: ).xiixiiixii

  5. maskurmambang 17 Februari 2010 pukul 12:27 AM

    blum ada agenda ke jogja. ni baru nyampe dari solo.aku paling seneng kalo ke jogja lebih dari sehari,soalnya dapat SPJ. wekeke

  6. kentaro ケンタロ 17 Februari 2010 pukul 4:32 AM

    Wah, mas kur dr solo g blg2..
    Kn bs mampir 😀
    @ k.b
    Kalo vaio kn laptop tuh :mrgreen:
    Sony Vario
    Honda Vaio techno :mrgreen:

  7. Haikal 17 Februari 2010 pukul 5:27 AM

    Terakhir k jogja wkt SMP 😀
    pengen k sana tp g ada keluarga, nti j mudah2n ada rizki insya Alloh m kluarga 🙂

  8. apdri 17 Februari 2010 pukul 6:12 AM

    lagu yg itu jarang dengar, lebih sering lagu Jogja-nya KLA project…
    btw, malioboro keliatan agak gersang, kok nggak ditanami pohon palem gitu… 🙂

    • kilaubiru 17 Februari 2010 pukul 8:13 AM

      sebenernya banyak bro lagu2 ttg jogja, saya pilihin tu yg liriknya sederhana aja…
      malioboro memang nyaman kalo sore atau malem, kalo siang puanasss 😀

  9. shumy 17 Februari 2010 pukul 6:55 AM

    permisi…cah jogja numpang baca Om..!

  10. adicuzzy bluecool 17 Februari 2010 pukul 10:54 AM

    wah, Jogjaaaaaa, kapan dolan mrono meneeeeeh ???

    jadi pengen bikin posting kota Solo nih… hehehe

  11. MoXo 17 Februari 2010 pukul 11:40 AM

    gambar paling atas: yakin mas arep neng Malioboro? ketok’e stang motore abot tengen je nek liwat kono kuwi.. wkwkwk

  12. asmarantaka 17 Februari 2010 pukul 3:36 PM

    neng gembiraloka bro…tilik sedulur meneh…hahahhaha….dadi pengen ke Jogja lagi..

  13. asmarantaka 17 Februari 2010 pukul 3:47 PM

    hahhaa…ora po2…penting iso memangsa cwek jogja…hehhehehhehe :mrgreen:

  14. Lilypud_suka.design 17 Februari 2010 pukul 6:55 PM

    wkk….sekedar penasaran :p . .wah…. .duitnya mau saya pakai wat beli henpon,soale wes males bayar neg di servis :mrgreen: . .bli lensa kapan2 . .nyari lensa tele.mayan wat intip orang mandi 😆

  15. kentaro ケンタロ 18 Februari 2010 pukul 11:38 AM

    K jogja naek pramex 9rb
    Sepur’e koyo merk obat mumet :mrgreen: wkwkwkwk
    Suk bar ujian dolan neng jogja ah.. 😀

  16. asmarantaka 21 Februari 2010 pukul 4:07 PM

    aq kancane buaya wee lahh…hehhehehe…dudu boyone…. :mrgreen:

  17. asmarantaka 21 Februari 2010 pukul 7:36 PM

    serupa tapi tak sama….hehehhehhehehe :mrgreen:

  18. putrane mbah parto 6 Mei 2010 pukul 7:53 PM

    patang wulan meneh lebaran, tapi atine wes kangen kampoeng halaman, pie iki mas?

  19. Gerizal 25 Januari 2012 pukul 1:06 AM

    Membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro.
    Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti “karangan bunga” menjadi dasar penamaan jalan tersebut.
    Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang dan bangunan bersejarah, jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.

    Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.

    Jangan lupa untuk menyisakan sedikit tenaga. Masih ada pasar tradisional yang harus dikunjungi. Di tempat yang dikenal dengan Pasar Beringharjo, selain wisatawan bisa menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah.

    Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.

    Di penghujung jalan “karangan bunga” ini, wisatawan dapat mampir sebentar di Benteng Vredeburg yang berhadapan dengan Gedung Agung. Benteng ini dulunya merupakan basis perlindungan Belanda dari kemungkinan serangan pasukan Kraton. Seperti lazimnya setiap benteng, tempat yang dibangun tahun 1765 ini berbentuk tembok tinggi persegi melingkari areal di dalamnya dengan menara pemantau di empat penjurunya yang digunakan sebagai tempat patroli. Dari menara paling selatan, YogYES sempat menikmati pemandangan ke Kraton Kesultanan Yogyakarta serta beberapa bangunan historis lainnya.
    Sedangkan Gedung Agung yang terletak di depannya pernah menjadi tempat kediaman Kepala Administrasi Kolonial Belanda sejak tahun 1946 hingga 1949. Selain itu sempat menjadi Istana Negara pada masa kepresidenan Soekarno ketika Ibukota Negara dipindahkan ke Yogyakarta.

    Saat matahari mulai terbenam, ketika lampu-lampu jalan dan pertokoan mulai dinyalakan yang menambah indahnya suasana Malioboro, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati disini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Serta hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap.
    Bagi para wisatawan yang ingin mencicipi masakan di sepanjang jalan Malioboro, mintalah daftar harga dan pastikan pada penjual, untuk menghindari naiknya harga secara tidak wajar.
    Mengunjungi Yogyakarta yang dikenal dengan “Museum Hidup Kebudayaan Jawa”, terasa kurang lengkap tanpa mampir ke jalan yang telah banyak menyimpan berbagai cerita sejarah perjuangan Bangsa Indonesia serta dipenuhi dengan beraneka cinderamata. Surga bagi penikmat sejarah dan pemburu cinderamata.

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: